| BB - 25b407dc | Mobile - 082125151037 | Batu Merah, Jaksel, 12510

Menengok Dinasti Pallawa di Mamalampuram (Bagian I dan II)

Pagi yang indah, dari jendela yang setengah tebuka, matahari mengirimkan senyumnya pada pukul tujuh waktu setempat. Kami bergegas meninggalkan penginapan dengan ransel yang sudah dikemas rapih. Yah, kami memutuskan untuk menengok kota yang agak sepi ini seharian saja. Memang tak banyak yang dapat dilihat di sini, tetapi bukan berarti kota ini tidak indah. Dari yang saya dengar kota ini menyimpan saksi sejarah atas hidupnya Dinasti Pallawa. Tidak cuma itu, satu sudut kota ini pun pernah menjadi korban ganasnya gelombang tsunami pada tahun 2004 silam, imbas dari tsunami yang melanda Aceh. Saya jadi penasaran untuk melihat seperti apa peninggalan memori zaman nenek moyang dulu. Dari kawasan penginapan yang masih dekat pantai, kami bergegas menuju jalan utama, alias jalan raya. Jalan masih sepi, hampir tak ada kendaraan yang lewat. Maklum budaya aktivitas mereka di luar rumah terbilang sangat siang. Kebanyakan aktivitas seperti perdagangan atau yang lainnya dimulai pukul 11 siang. Sudah 15 menit berjalan, beberapa becak pun mulai berkelebatan, disusul motor pulsar yang mulai mondar-mandir di jalan sekitar. Agenda pertama kami adalah untuk menengok jejak peninggalan Kerajaan Mahabalipuram. Mereka menyebutnya sebagai Pancha Rathas / Five Rathas.
Five Rathas atau Panca Rathas ini merupakan salah satu situs Warisan Dunia yang terletak di kota Mamalampuram, distrik Madras, di negara India bagian Tamil Nadu. Five Rathas sendiri adalah sebuah wujud monumen monilitik yang berjumlah lima bangunan. Menurut, monumen yang beralaskan tanah pasir ini dibangun pada masa kejayaan Raja Mahendravarman, lalu keberadaannya disempurnakan oleh Raja Narasimhavarman, yang tak lain adalah putra Mahendra sendiri, tepatnya sekitar abad ke-9. Namanya konon diambil dari lima tokoh utama cerita epik Mahabharata, kelima pandawa Yudhistira, Bima, Arjuna, dan si kembar Nakula dan Sadewa. Berdasarkan nama yang menyandang angka lima, komplek ini kemudian juga terdiri dari lima bangunan utama. Ratha-ratha Mahabharata tersebut memiliki karakter dan bentuk yang berbeda, seperti Ratha Drupadi yang menggambarkan kemuliaan seorang tokoh wanita mulia yang diasosiasikan dengan karakter Btari Durga. Relief-relief patung sang dewi dengan wujud dan beberapa atributnya tampak tergambar di setiap sisi dinding Ratha tersebut. Ratha Arjuna juga tampak cantik dengan ukiran-ukiran relief beberapa tokoh epik Hindu yang bergelar dewa, meski ratha ini didedikasikan untuk dewa Siwa, tetapi beberapa patung mulia seperti Dewa Wisnu dan tokoh lainnya pun tampak menghiasi dibagian sisi-sisi nya. Kemudian ada ratha Nakula dan Sadewa yang didedikasikan untuk Dewa Indra. Lain halnya lagi dengan ratha Bima, kuil ini tampak indah dan luas dengan dua lantai, pilar, ukiran, serta relief menara yang mirip wihara pagoda. Sedangkan ratha Yudhistira dibuat sedemikian rupa menjadi yang terbesar dan terindah. Struktur bangunan dan relief ukirannya juga tampak lebih detil, menggambarkan Siva pada setiap dindingnya.
Dari kelima ratha tersebut terdapat ratha Ganesha. Dulunya kuil ini didedikasikan untuk dewa Vishnu, tetapi kemudian setelah lingga yang terdapat di dalamnya dipindahkan, kini dianggap menjadi Ganesha. Komplek monumen monolitik ini memang tak begitu luas, tetapi karena letaknya di tepi jalan, keunikannya menjadi salah satu keistimewaan yang dimiliki kota ini. Dari kehebatan sang Pandawa lima, kami menyusuri kembali jalan raya. Karena masih merasa lelah setelah menjelajahi Pondicherry, kami memutuskan naik becak ke kawasan pantai dengan ongkos 20 Rupee. Sesampainya di pantai, kami mendapati suasana yang mirip Bali, namun jalan-jalannya masih berupa tanah bercampur pasir.
Ketika hari mulai siang, kami memutuskan mengunjungi sebuah kuil yang konon pernah menjadi tonggak sejarah dari Dinasti Pallawa. Memang sih, menurut sejarah, kota yang kaya dengan kuil dan perairan lepas pantai ini merupakan bagian terbesar dari jejak warisan Dinasti Pallava yang ternyata jejak-jejaknya juga banyak bertengger di sekitar pulau Jawa tanah air kita. Di Indonesia, napak tilas budaya yang diturunkan dinasti ini masih begitu kental di beberapa bagian pulau Jawa, seperti di kerajaan Kutai ataupun kawasan dingin di Dieng. Persinggahan kami di Mamalampuram tiba di Shore Temple yang terletak di pantai Mamalampuram, di gugusan Teluk Benggala. Keberadaannya sebagai satu-satunya kuil di kawasan tersebut, menjadikannya ikon wisata paling laris dilirik wisatawan.
Menurut sejarah, bangunan kuil yang menganut gaya arsitektural Dravidian ini telah ada sejak abad ke-7. Relief-relief para dewa di cerita epik Hindu pun menjadi karakter ukiran di dinding bebatuan tersebut. Di antaranya Siva dan Parvati, tokoh epik yang menjadi tuan rumah kuil eksotis yang pernah diterjang badai Tsunami beberapa tahun lalu, dan patung Nandi yang keramat sebagai penjaga dua tokoh mulia tersebut. Uniknya, untuk menikmati tempat suci yang dianugerahi UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia ini ada waktu khususnya. Konon, matahari terbenam adalah awal terbaik untuk menapaki jejak Pallawa ini, dan ketika malam tiba, saat lampu-lampu di kuil ini mulai bekerja, itulah waktu terbaik menyelami lansekap alam yang sungguh mempesona itu.
Suasana pantai yang nyaman tak ubahnya pemikat abadi bagi para wisatawan untuk mengunjungi kembali kawasan ini, dan mempelajarinya lewat detak jantung para nelayan yang berkobar saat perahu mulai berlayar menengah. Saya bahkan bertemu seorang biksu pengelana yang mengaku berasal dari Thailand. Kawasan ini juga terkenal sebagai rumah seni para pemahat batu. Selain galeri-galeri yang memajang karya seninya, di kawasan ini banyak terdapat galeri seni yang memberikan pelayanan sekolah memahat. Para pelancong yang doyan kesenian di bidang ini pun banyak yang mengikuti sekolah atau kursus kilat.
Para pengunjung juga boleh menjajal bakat yang satu ini dengan mengunjungi toko-toko sekitar yang akan dengan senang hati menawarkan kesenian ini untuk dipelajari, meski cuma sekadar iseng. Begitu perut terasa lapar, kami menyusuri pantai lainnya untuk mencari makan siang yang sudah telat. Hampir sore, kami menikmati menu seafood di restoran yang jaraknya selemparan batu dengan bibir pantai. Dari foto yang dipajang, restoran ini pernah menjadi salah satu tumbal dari musibah tsunami 2004 lalu itu. Tetapi tampilannya kini memang jauh lebih baik, lebih diperluas dan dipercantik dengan ornamen-ornamen bertema kelautan, meski yah, kursinya cuma kursi plastik biasa. Cita rasanya lumayan enak, dan harganya juga murah. Dari keheningan sore yang sudah mulai diguyur gerimis, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan dan keluar dari kota ini. Malam harinya kami kembali ke terminal bus, untuk menggunakan bus lainnya menuju Chennai, ibu kotanya Tamil Nadu. Jaraknya lumayan dekat, cuma sekitar 60 km. Dengan bus kemungkinan sampai di tempat sekitar. satu setengah jam.

Leave a Reply